LOGIN

Login Form

Avatar
Remember me
Forgot password?

Rabu, 10 Maret 2010

Mempertahankan Kebudayaan Sendiri

Malaysia kembali melakukan tindakan yang tak sportif terhadap Bangsa Indonesia. Bentuk ketidaksportifan yang untuk kesekian kalinya itu terlihat ketika diklaimnya satu budaya Indonesia sebagai milik negeri tetangga tersebut. Seperti terpublikasi dalam sebuah iklan Visit Malaysia, dicantumkan bahwa Tari Pendet sebagai salah satu budaya bangsa tersebut. Padahal, kita ketahui bersama bahwa Tari Pendet merupakan tarian tradisionil masyarakat Bali.
Sebelumnya, Malaysia juga sudah menyerobot sejumlah hasil karya Bangsa Indonesia. Adalah lagu “Rasa Sayange”, sebagai lagu yang murni berasal dari Indonesia, kemudian dicaplok bulat-bulat oleh Malaysia sebagai lagu dalam iklan pariwisata negara tersebut. Padahal, tidak seorang pun membantah bahwa lagu tersebut merupakan lagu daerah di Indonesia yang berasal dari Sulawesi/Maluku.
Kemudian Malaysia juga pernah mengklaim lagu “Bintang Kejora” dan “Abang Tukang Bakso” sebagai lagu negaranya. Bahkan Berang Reog Ponogoro pun dijiplak tanpa ada izin dari sipenciptanya. Padahal Berang Reog Ponorogo adalah bahagian dari budaya bangsa yang sudah lama dilestarikan.
Mengapa bisa terjadi? Mengapa pula, Negara Malaysia terus melakukan tindakan yang tidak terpuji dan yang sangat merugikan Bangsa Indonesia dengan mencuri karya seni kita?
Setiap hasil karya cipta anak bangsa, apalagi sudah ditetapkan sebagai simbol budaya, secara otomatis menjadi budaya dan kekayaan bangsa ini. Tidak boleh ada negara yang bisa mengklaim itu sebagai miliknya. Karya cipta dan budaya bangsa adalah sesuatu yang menjadi ciri bangsa yang patut dilestarikan.
Diawal kemerdekaan, pediri bangsa Bung Karno, bahkan pernah memploklamirkan trisakti dalam membangun bangsa, yang salah satunya adalah kedaulatan dalam budaya. Budaya menjadi milik yang sangat privasi suatu bangsa. Maka, perampasan terhadap budaya merupakan gangguan terhadap eksistensi kedaulatan negara. Jadi, tindakan negara Malaysia ini merupakan persoalan serius bagi eksistensi budaya kita.
Benar Bangsa Indonesia adalah bangsa yang serumpun dengan Malaysia. Sebagai bangsa yang serumpun, tentu memiliki banyak persamaan. Misalnya ditinjau dari segi bahasa dan kesukuan, kedua negara tersebut memiliki kedekatan. Memiliki banyak persaman, bukan berarti keduanya bisa saling mengklaim milik suatu negara adalah otomatis milik negara lain juga. Setiap negara harus menjunjung budaya yang dimiliki oleh negara lain.
Maraknya peristiwa pencaplokan lagu daerah dan klaim atas karya seni anak bangsa, oleh Malaysia adalah bahagian dari pencideraan kedaulatan negara kita. Itu artinya, Malaysia telah sengaja merebut harta kekayaan dan keunikan Bangsa Indonesia. Dalam posisi seperti ini, pemerintah harus tegas. Kita adalah bangsa yang berdaulat dan merdeka. Kemerdekaan bisa juga dimaknai sebagai kebebasan dalam mengembangkan dan sekaligus menjaga kreativitas anak bangsa.
Masalah ini harus segera dituntaskan. Langkah kekeluargaan dan jalur diplomasi harus dikedepankan. Namun jika terbukti tidak ampuh, maka langkah-langkah hukum pun harus dikerjakan. Aksi Mahasiswa di sejumlah daerah yang sudah dengan tegas menyatakan sikapnya menjadi pertanda bahwa rakyat sudah gusar dengan perilaku Malaysia tersebut. Kita harus serius menjaga martabat bangsa.
Sekali lagi, tindakan tegas harus segera diambil. Hal ini menjadi penting, supaya masalah serupa tidak terjadi lagi dimasa-masa yang akan datang. Jangan sampai ada steoretip yang menyatakan bangsa kita adalah bangsa yang lemah. Bangsa yang tidak mampu menjaga dan memelihara kekayaan dan kedaulatan sendiri. Bangsa yang bisa dibeli dan dimanipulasi.
Tentu, koreksi diri juga perlu dilakukan. Budaya bangsa harus dipertahankan. Harus diakui bahwa selama ini kita kurang serius dalam menghargai karya cipta dan budayanya sendiri. Barulah setelah diklaim bangsa lain, kita kemudian sibuk dan marah. Sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukan langkah revitalisasi atas semua karya anak bangsa dan budaya yang menjadi kekayaan kita.

Di terbitkan by Ardinal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar